Ber-Islam di Paris


Achmad Baidowi
Wakil Sekjen DPP PPP/Anggota Komisi II DPR

Paris, Ibu Kota Perancis. Begitu mendengar nama tersebut maka yang terbayang adalah Menara Eiffel serta nuansa romantis khas kota eropa barat. Ya di kota ini banyak sekali spot wisata yang memanjakan mata. Setidaknya ada 15 tempat wisata terkenal di kota tempat Napoleon berkuasa ini. Sebut saja Eiffel, Museum Louvre tempat lukisan Monalisa karya Leonardo da Vinci disimpan, sunga siene, pont des arts, montmartre, place de la concorde, arc de triomphe, champ elysee, notre dame cathedral, Le Marais, Dans le Noir, Le Jardin des Serres d’Auteuil, Porte de Clignancourt Flea Market, Cafe de Flore, hingga Bel Canto.


Setiap harinya ribuan pelancong dari berbagai belahan dunia menyerbu kota Paris yang belakangan ini identik dengan aksi kriminalitas yakni pencopetan, masalah yang kini dikhawatirkan di seluruh kota di Eropa.
Alhamdulillah, penulis berkesempatan berkunjung ke negara ini dalam rangka studi banding tentang agraria terkait penyusunan RUU Pertanahan yang sedang dibahas Komisi II DPR bersama Kementerian ATR/BPN.
Sebuah kesempatan langka berkunjung ke Eropa melewati hari Jum’at yang merupakan Sayyidul ‘Ayyam bagi warga muslim. Terdorong keingintahuan terhadap perkembangan Islam di Perancis, penulis bertekad ingin menunaikan shalat Jumat di kota ini. Maka, agenda lainnya terpaksa harus dicancel untuk bisa bertemu dengan saudara-saudara Muslim di Paris. Tujuan utama adalah Masjid Agung.


Berangkat dari penginapan di Portr de Chichly penulis naik Metro, kereta bawah tanah keliling kota. Kemudian perjalanan dilanjutkan ke kawasan
Place du Puits de l’Ermite, tempat bangunan masjid agung berdiri.
Grande Mosquée de Paris atau dalam bahasa Indonesia nya menjadi Masjid Agung Paris adalah masjid pertama dan terbesar yang dibangun di Prancis sekaligus menjadi masjid terbesar ke tiga di Eropa.  Masjid yang menyimpan begitu banyak kenangan bagi Yahudi Eropa dijaman pembantaian yahudi oleh Nazi Jerman yang menyerbu ke Paris. Masjid Agung Paris menjadi tempat perlidungan utama kaum yahudi waktu itu, di masjid Agung Paris mereka tidak saja di beri perlingungan, tempat tinggal, makan, pakaian tapi sampai kepada dibuatkan akte kelahiran, surat nikah, hingga dokumen dokumen pribadi lain nya dengan mengubah data mereka menjadi “seolah olah’ muslim, agar selamat dari kejaran dan pembantaian Nazi. Masjid Agung Paris kini menjadi salah satu daya tarik kota Paris, mejadi monumen Islam di Negara itu. Islam sendiri kini menjadi agama bagi 25% penduduk Prancis.

Sejarah Masjid Agung Paris
Masjid Agung Paris didirikan setelah berakhirnya Perang Dunia pertama sebagai tanda terima kasih Prancis kepada komunitas Muslim di sana yang ikut melawan pasukan Jerman dalam sebuah pertempuran yang berlangsung di daerah perbukitan utara kota Verdun-sur-Meuse di wilayah bagian utara-timur Perancis pada 1916, dimasa perang dunia pertama.
Dibangun di lokasi bekas Rumah Sakit Mercy ini seluruh pendanaannya disediakan oleh pemerintah Prancis. Peletakkan batu pertama dilakukan pada tahun 1922. Pada tanggal 15 Juli 1926, bangunan Grande Mosquée de Paris diresmikan secara simbolis oleh Presiden Prancis saat itu Gaston Doumergue.
Ahmad al-Alawi (1869-1934), seorang tokoh sufi berdarah Aljazair, ditunjuk sebagai imam shalat pertama sebagai pertanda diresmikannya masjid baru di kota Paris di hadapan Presiden Doumergue. Imam Masjid Raya Paris saat ini dijabat oleh Mufti Dalil Boubakeur, yang juga merupakan Presiden Dewan Muslim Perancis yang dibentuk tahun 2002.

Geliat perkembangan muslim memang sangat terasa di kota ini dibanding kota-kota besar lainnya di Eropa. Hal ini mungkin karena negara ini dekat dengan negara-negara muslim Afrika seperti Mesir, Aljazair, Maroko, Lybia yang bisa ditempuh lewat perjalanan laut ataupun penerbangan sekitar 2-3 jam. Tak heran jika banyak imigran muslim di negara ini. Bahkan, legenda sepakbola Perancis yang merengkuh Piala Dunia 1998, Zinedine Zidane merupakan warga keturunan Aljazair muslim. Begitupun dengan nama-nama tenar lainnya. Bahkan di skuad timnas yang merebut juara Piala Dunia 2018 ada sekitar 7 orang pemain muslim seperti Paul Pogba, Ousmane Dembele, N’golo Kante, Adil Rami, Djibril Sidibe, Benjamin Mendy dan Nabil Fekir yang semuanya merupakan warga keturunan Afrika muslim.
Tak seperti di kota-kota besar lain di eropa barat, di sepanjang jalan di Paris penulis kerap bertemu dengan saudara sesama muslim. Tidak hanya dari keturunan Afrika tapi juga dari Asia seperti; Arab, Bangladesh bahkan Indonesia. Seperti Sri Utami, warga Brebes, Jateng, yang penulis temui di seputaran Menara Eiffel. Sri sudah tujuh tahun tinggal di Paris dan bekerja di salah satu gerai makanan di kawasan Eiffel.
Bahkan setiap naik Metro selalu bertemu dengan warga muslim yang ketika mengucap salam mereka pun dengan senang hati menjawabnya.


Ketika memasuki Masjid Agung Paris, jam menunjukkan pukul 12.38 waktu setempat dan khutbah sudah mulai. Tak pelak tempat untuk sholat pun hanya kebagian di teras masjid. Ribuan warga muslim dari berbagai etnis menyatu, mulai dari yang kulit hitam, Afrika Utara, Timur Trngah, Eropa hingga wajah melayu seperti penulis.
Abdus Shomad, salah satu pemuda keturunan Mesir, sangat senang berbagi kisah dengan penulis. Dia cukup bangga dengan perkembangan Islam di Paris. Namun, dirinya menyayangkan seringkali dinodahi oleh ulah imigran ilegal yang makin banyak masuk ke Perancis belakangan ini.
Dirinya berharap masuknya imigran ilegal tersebut tidak membuat Islam phobia semakin menguat. Dia hanya ingin menegaskan bahwa imigran ilegal lebih pada identitas warga sebuah negara bukan sebagai pemeluk Islam. “Artinya mereka berbuat onar bukan karena Islam tapi karena statusnya ilegal. Jadi ini harus dibedakan” begitu harap Shomad.
Tak terasa jarum jam menunjuk angka 14.30 sehingga mengharuskan penulis undur diri. Hujan gerimis mengiringi langkah penulis menuju restoran Taco Dore asal Maroko untuk mengisi perut yang mulai mengeluarkan irama musik sumbang. Tak perlu ragu, karena di depan terpampang tulisan Halal. Satu porsi kuskus ayam dengan sebotol lemon dan sebotol mineral seharga 17 euro cukup untuk mengisi siang itu. Semoga masih ada waktu bisa kembali ke Paris yang romantis.

Bookmark the permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *