Nasionalisme di Rajamangala Stadium

Ach Baidowi

Sebulan lalu menjadi momen tak terlupakan bagi sejarah sepakbola tanah air. Ya, tanggal 17 Desember 2016, saat menyambangi National Stadium Rajamangala, Bangkok, Thalinad, timnas Indonesia percaya diri menghadapi laga II final AFF Suzuki Cup 2016. Dengan modal kemenangan 2-1 d leg pertama, timnas siap mengukir sejarah baru menjadi kampium di kawasan Asia Tenggara.

Euforia juga dirasakan para suporter merah putih. Tak kalah semangat, mereka pun ingin menjadi saksi sejarah di stadion dengan kapasitas 60.000 orang tersbut. Untuk memberikan dukungan maksimal, PSSI dan KBRI Bangkok pun meminta slot tempat duduk sebanyak 1.000 kursi kepada panitia. Animo dukungan terhadap Timnas sudah terasa ketika memsuki menjejakkan di dalam pesawat Garuda GA 866 rute Jakarta-Bangkok. Hamper 80% penumpang pesawat merupakan suporter Indonesia. Aksesoris timnas, seperti kaos, topi, syal sudah digunakan mereka sejak dari terminal keberangkatan Soekarno Hatta Airport.

Guratan semangat nasionalisme yang sempat lesu belakangan, kini mulai terlihat bergairah kembali. Kondisi ini mengingatkan penulis pada leg pertama final Piala AFF 2010 saat timnas melawat ke Stadion Bukit Jalil Kuala Lumpur, Malaysia. Meminjam istilah yang lazim di Bonekmania, Tret-tet-tet suporter tak bisa dibendung. Begitu mendarat di Bandara Suvarnabhumi, Bangkok sambutan hangat dari warga Thailand menyapa kami. Tak ketinggalan, para petugas pun menyapa kami dengan hangat seolah melupakan kalau dalam beberapa jam kedepan kami berada dalam posisi berseberangan. Ya dukungan terhadap timnas boleh berbeda, tapi persaudaran dalam ikatan kemanusiaan harus tetap terjaga.

Pihak KBRI sedari awal sudah menyadari akan menjadi tuan rumah bagi suporter Indonesia. Mereka sudah siap menyambut suporter Indonesia. Beberapa petugas KBRI sengaja ditempatkan di bandara untuk turut membantu kelancaran suporter masuk ke Bangkok, khususnya rombongan DPR dan kementerian. Tercatat beberapa kementerian mengrimkan suporter. Bahkan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Panglima TNI Jenderal Gatot S Nurmantio  datang langsung di Rajamangala.

Tak terasa setelah satu jam membelah kemacetan lalu lintas di Bangkok, yang ternyata lebih kompleks dari Jakarta, penulis tiba di KBRI sekira pukul 15.00 waktu setempat. Empat jam kemudian kami akan turut merasakan atmosfir pertandingan di Rajamangala Stadium yang selama ini dikenal angker bagi tim tamu.

Suasana di KBRI begitu ramai, para suporter sudah memenuhi sekitar 8 bus yang sudah disiapkan. Tak ketinggalan, KBRI juga menyiapkan makanan di Wisma Indonesia untuk menyambut saudara sendiri. Dubes Indoensia untuk Thailand Achmad Rusdi beserta istri terlihat sibuk  menyambut para tamu, khususnya para petinggi Negara ini. Rasa persaudaran, semangat nasionalisme begitu terlihat di Wisma Indonesia. Hanya dalam momen inilah, penulis bisa duduk satu meja dengan Menag, Dubes, Ketua PSSI dan Stafsus Menag sambil diiringi diskusi kecil. Tak berselang lama, Panglima TNI yang bersama rombongan keluarga timnas tiba di Wisma Indonesia.

Kami pun membaur menikmati sajian makanan khas Indonesia yang disiapkan KBRI. Momen foto-foto pun seolah menjadi menu wajib bagi semua yang hadir. Menag Lukman Hakim Saifuddin paling banyak menjadi sasaran foto bersama oleh staf KBRI maupun suoprter. Tepat pukul 17.00 kami mulai  bergerak menuju  Rajamangala yang diperkirakan memakan waktu satu jam. Kami sengaja berangkat lebih awal, mengingat jalur menuju stadion cukup padat dan macet. Aura kemacetan tak jauh berbeda dengan di Jakarta. Bahkan, kami yang satu mobil dengan Menag berkelakar seolah olah sedang terjebak kemacetan di Kampung Melayu, Jakarta Timur. Harus diakui infratsruktur transportasi di Bangkok lebih siap dibanding Jakarta, ada MRT dan jalan layang sudah banyak. Namun, hal itu tak mampu mengurai kemacetan khususnya di jam sibuk. Terlihat beberapa bus lalu lalang, sepintas kondisi bus mirip dengan bus 46 milik PPD.

Tak terasa mobil yang kami tumpangi memasuki kawasan Rajamangala Stadium. Sepintas stadion tersebut terlihat kecil,  mengingat desain tribun memang dibuat menjulang mirip Camp Nou, Barcelona  untuk menyiasati keterbatasan lahan. Sambutan hangat para suporter tuan rumah pun membuat suasana lebih meriah. Sepertinya memang hubungan suporter Indonesia dan Thailand seperti saudara. Seisi stadion membiru, hanya di pojok barat daya yang terlihat merah dipenuhi suporter Indonesia. Gemuruh drum band dan yel yel pendukung Thailand bergemuruh. “Thailand, Thailand, Thailand” begitu teriak suporter tuan rumah. Tak mau kalah,  suporter Indonesia yang sebagian terdiri dari Jakmania, Bobotoh, Bonek, Tretan un mengeluarkan kemampuan terbaiknya untuk mendukung tim kesayangan.
Teriakan “Indonesia, Indonesia, Indonesia” yang diselingi tabuhan dan tepuk tangan juga mampu memukau seisi stadion. Nyali kami tak ciut sedikitpun berada di kandang macan. Nasionalisme tinggi dan gegap gempita suporter pun tak jauh berbeda seperti ketika timnas bermain di kandang. Mungkin itulah salah satu kelebihan suporter Indonesia, mampu eksis dalam kondisi apapun. Meskipun minoritas di tengah kepungan suporter lawan, jiwa nasionalisme Indonesia tak pernah pudar.

Ketika lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan, semangat nasionalisme semakin tinggi. Bendera merah putih ukuran raksasa dikibarkan menandakan bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa besar yang selalu siap dalam kondisi apapun. Berkat sepakbola, rasa nasionalisme kita digugah. Semangat tanpa lelah ditunjukkan oleh pemain Indonesia dan suporter di sepanjang pertandingan.

Namun, dua gol dari Siroch Chatthong  di babak pertama dan babak kedua mengubur mimpi Indonesia untuk menjadi juara AFF 2016. Mitos bahwa pemenang leg pertama akan menjadi juara AFF runtuh di tahun 2016. Indonesia harus menyimpan kembali keinginan menjadi juara AFF untuk yang pertama kali. Selain ditunjukkan arti sebuah nasionalisme, gelaran AFF 2016 memberikan pelajaran bagi kita semua, bahwa prestasi itu tidak mungkin diraih dengan mudah apalagi dengan cara instan. Semua membutuhkan proses yang cukup panjang. Hanya tim terbaik dari aspek kualitas teknis, mental dan skill yang akan keluar sebagai pemenang. Kita yang kembali meraih posisi runner up tak perlu larut untuk menundukkan muka. Bermodal semangat nasionalisme saja tidak cukup, tapi harus mendapat dukungan semua pihak khususnya pemerintah. Itu semua akan berguna jika dibarengi semangat juang tinggi, kerja keras dan dukungan suporter. Bila semua telah dilakukan, kami yakin di tahun mendatang medali emas itu akan mampir ke markas PSSI di kawasan GBK Senayan. Semoga!

Penulis adalah Anggota Komisi II DPR Fraksi PPP/ suporter Timnas Indonesia

Menag Kunjungi Ponpes Darul Ulum Pamekasan

REPUBLIKA.CO.ID, PAMEKASAN — Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin pada Sabtu (14/1) sore mengunjungi Pondok Pesantren Darul Ulum, Banyuanyar, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, guna menghadiri Temu Alumni Akbar lembaga pendidikan Islam itu.

“Saya bersyukur bisa datang ke pesantren ini, karena bagi saya, pesantren adalah penting,” kata Menteri Agama, yang tiba di Pondok Pesantren Darul Ulum Pamekasan sekitar pukul 15.20 WIB bermobil warna hitam berpelat nomor RI 24.

Ia kemudian memaparkan kondisi global saat ini berikut tantangan dan dampaknya terhadap pembentukan pribadi bangsa. Pendidikan agama, menurut dia, sangat penting untuk menguatkan nilai-nilai agama pada masing-masing pribadi.

“Toleransi antarumat beragama dan umat seagama harus kita pupuk, karena ini merupakan bangunan dasar bangsa ini,” demikian Lukman Hakim Saifuddin.

Ribuan alumni pesantren asuhan KH Syamsul Arifin itu menyambut kehadiran Menteri Agama untuk beramah tamah dan mendengarkan ceramahnya.

Hadir juga dalam temu alumni akbar ini, anggota DPR RI dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Ahmad Baidawi, Kanwil Kemenag Jawa Timur, serta Forum Pimpinan Daerah (Forpimda) Pemkab Pamekasan.

PPP Sependapat Ambang Batas Parlemen Nol Persen

JawaPos.com – Sejumlah partai mengusulkan agar ambang batas parlemen (parliamentary threshold) sebesar 0 persen. Salah satunya Partai Persatuan Pembangunan (PPP)

“Untuk usulan parliamentary threshold nol persen, masih bisa diterima untuk mengindari suara hangus,” ujar Wakil Sekretaris Jenderal PPP Achmad Baidowi kepada JawaPos.com, Minggu (15/1).

Alasan lain mengapa PPP setuju agar ambang batas parlemen nol persen agar kursi parlemen proporsional sebagaimana sistem pemilu di Indonesia. “Semangat demokrasi bukan memberangus salah satu kelompok tapi mengakomodir semuanya dengan prinsip proporsional,” sebut anggota panitia khusus Rancangan Undang-Undang Pemilu itu.

Soal pengaturan fraksi nantinya jika usulan tersebut diakomodir, kata pria yang akrab disapa Awiek itu, ketentuannya ada di dalam UU MPR, DPR, DPD, dan DPRD (MD3). Kendati demikian, lanjut dia, pastinya harus ada batasan minimal kursi untuk bisa membentuk fraksi.”Di MD3, ada syarat kursi pembentukan fraksi,” sebutnya.

Awiek menambahkan, PPP sepakat ambang batas parlemen 0 persen, namun tidak halnya untuk ambang batas presiden (presidential threshold). Pihaknya mengusulkan agar PT sebesar 25 persen kursi DPR atau 30 persen suara hasil Pileg 2014.

Hal itu katanya dilakukan agar tidak semua orang bisa asal mencalonkan diri sebagai capres. “PPP memperketat syarat capres bertujuan untuk menghasilkan sistem presidensil yang kuat dengan bangunan koalisi yang kuat sejak awal,” tambahnya.(dna/JPG)

Serahkan DIM RUU Pemilu, PPP Antisipasi Capres Tunggal

JawaPos.com – Pengaturan pemilihan presiden (Pilpres) menjadi satu hal yang penting dibahas dalam RUU Pemilu. Selain keserentakan waktu sebagai amanat dari putusan Mahkamah Konstitusi (MK), pengaturan pilpres juga harus mengantisipasi munculnya calon presiden tunggal.

Kata Anggota Komisi II Fraksi PPP Achmad Baidowi, jika mengacu pada pelaksanaan pilkada serentak dalam dua gelombang, fenomena calon tunggal naik signifikan. “Fenomena ini tidak menutup kemungkinan juga terjadi pada pilpres,” ujarnya melalui pesan singkat, Selasa (10/1).

Kendati demikian dia menerangkan, jika pilpres hanya diikuti satu pasangan, proses pemungutan suara harus tetap dilakukan. Misalnya melawan kotak kosong dan kemenangan harus lebih dari 50 persen.

Merespon hal krusial tersebut, PPP lantas memasukkan pengaturan pilpres terkait calon tunggal ke dalam daftar inventaris masalah (DIM) yang akan diserahkan dalam minggu ini. “Dalam DIM, fraksi sudah mencantumkan kemungkinan munculnya pasangan capres tunggal,” ujar pria yang akrab disapa Awiek itu.

Selain itu, PPP mengusulkan syarat pengajuan pasangan capres adalah 25 persen kursi dan 30 persen suara hasil pemilu 2014. “Hal ini diperlukan untuk menghasilkan  koalisi pemerintahan yang kuat dalam konteks sistem presidensil,” pungkas anggota pansus RUU Pemilu itu. (dna/JPG)

PPP Usul RUU Pemilu Antisipasi Capres Tunggal

Jakarta – Anggota Pansus RUU Pemilu dari PPP Achmad Baidowi alias Awiek mengatakan salah satu pembahasan yang mungkin didiskusikan cukup serius dalam pembahasan RUU Pemilu adalah terkait pengaturan pemilihan presiden.

Dalam pekan ini, kata Awiek, jika tidak ada aral melintang, fraksi-fraksi akan menyerahkan Daftar Inventarisasi Masalah atau DIM RUU pemilu.

“Salah satu pembahasan yang dimungkinkan untuk didiskusikan cukup serius adalah terkait pengaturan pilpres. Selain keserentakan waktu sebagai amanat dari putusan MK,pengaturan pilpres juga harus memgantisipasi munculnya capres tunggal,” ujar Awiek di Jakarta, Selasa (10/1).

Jika mengacu pada pelaksanaan pilkada serentak dalam dua gelombang, kata dia fenomena calon tunggal juga naik signifikan. Menurut dia, fenomena ini tidak menutup kemungkinan juga terjadi pada pilpres.

“Karena itu, PPP dalam DIM fraksi sudah mencantumkan kemungkinan munculnya pasangan capres tunggal,” ungkap dia.

Lebih lanjut, dia mengatakan jikapun pilpres hanya diikuti satu pasangan, proses pemungutan suara tetap dilakukan, misalnya melawan kotak kosong dan kemenangan harus lebih dari 50 persen.

“Selain itu, PPP mengusulkan syarat pengajuan pasangan capres adalah 25 persen kursi dan 30 persen suara hasil pemilu 2014. Hal ini diperlukan untuk menghasilkan koalisi pemerintahan yang kuat dalam konteks sistem presidensil,” pungkas dia.

 

Source : http://www.beritasatu.com/nasional/408579-ppp-usul-ruu-pemilu-antisipasi-capres-tunggal.html

Wasekjen PPP Senang, Persebaya Kembali Berstatus Anggota PSSI

RMOL. Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Ach. Baidowi menyambut gembira hasil Kongres Tahunan PSSI 2017 yang berlangsung di Bandung, Minggu (8/1).

Kegembiraan pria yang akrab disapa Awiek ini menyusul dipulihkannya kembali status Persebaya dalam keanggotaan PSSI.

Diketahui, hasil Kongres tahunan PSSI 2017 akhirnya memutuskan klub berjuluk ‘Bajul Ijo’ tersebut sudah bisa berlaga dari kasta Divisi Utama mulai tahun 2017.

“Kami menyambut gembira karena status Persebaya sudah dipulihkan kembali oleh PSSI,” ucap Awiek kepada rmoljakarta, Minggu (8/1).

Anggota Komisi II DPR RI ini menyebutkan, Persebaya merupakan salah satu klub legendaris pemasok pemain Timnas Indonesia.

Sejumlah pemain hebat Timnas seperti, Andik Virmansyah yang saat ini sudah mulai berkarir di salah satu Klub Malaysia dan Evan Dimas Darmono yang sukses membawa Timnas Indonesia U-19 menjuarai Kejuaraan Remaja U-19 AFF 2013 tersebut lahir dan dibesarkan di klub sepakbola yang berhome base di Kota Pahlawan ini.

“Karena selama ini, pembinaan di Persebaya cukup bagus dan kompetisi internal juga jalan,” imbuh legislator berlatarbelakang pesantren ini.
Seiring dengan dipulihkannya kembali status keanggotaan Persebaya oleh PSSI, Awiek berharap akan banyak menelurkan pemain-pemain Timnas yang handal.

“Saya harap nanti lahir pemain Timnas mengikuti jejak seniornya,” ujar pria yang saat ini jadi anggota Pansus RUU Pemilu ini.

Dikatakan Awiek, sebagai salah satu klub sepakbola legendaris, seharusnya PSSI menempatkan Persebaya untuk tampil di ISL bukan di Divisi Utama.
“Tapi kita hormati keputusan Kongres PSSI yang menempatlan persebaya di Divisi Utama,” Ujar dia.

“Dengan bermain d Divisi Utama, kita berharap Oersebaya lebih punya waktu untuk mempersiapkan tim yang kuat,” tukas Awiek. [has/zul]

Source: http://www.rmoljakarta.com/read/2017/01/08/39903/Wasekjen-PPP-Senang,-Persebaya-Kembali-Berstatus-Anggota-PSSI-

Spirit Pakansari

Achmad Baidowi

Secara tak terduga, timnas Indonesia mampu lolos dari kualifikasi grup A AFF Suzuki Cup 2016. Disebut tidak terduga karena Indonesia baru saja melewati sanksi FIFA yang berimbas pada larangan tampil di event internasional. Praktis timnas baru disiapkan dalam jangka tiga bulan, sebuah rentang waktu yang sangat mepet untuk mempersiapkan tim menghadapi kompetisi level tertinggi kawasan Asia Tenggara.

Namun, dalam perjalanannya Andik Virmansyah, dkk mampu membalikkan anggapan sebagai tim underdog. Timnas menjelma menjadi tim kuda hitam yang menakutkan.
Sempat tampil loyo di pertandingan pembuka grup A dengan digebuk Thailand 4-2 (2-0). Lambat laun, timnas mulai bergeliat dengan bermain imbang 2-2 (1-1) melawan tuan rumah Filipina, dan di laga pamungkas menjungkalkan Singapura 2-1 (1-0). Kemenangan tersebut menjadi tiket untuk lolos sebagai runner up mendampingi Thailand yang tampil nyaris tanpa cela.

Sistem home and away yang diberlakukan AFF pada fase semifinal dan final, menjadi keuntungan sendiri bagi Indonesia. Awalnya sempat khawatir karena tidak bisa bermain di hadapan 80.000 suporter yang biasa memadati Gelora Bung Karno. Namun. antusiasme publik tetap tinggi meskipun pertandingan dihelat di Stadion Pakansari, sport centre milik Pemkab Bogor dengan kapasitas 30.000 penonton. Tentu saja atmosfir dukungan jauh berbeda dengan bermain di GBK. Meski demikian, di luar stadion antusiasme suporter yang tidak kebagian tiket jumlahnya mencapai lebih separuh dari kapasitas stadion. Euforia di luar stadoin tak kalah meriah. Mereka tak menghiraukan kondisi luar stadion yang becek bercampur lumpur akibat belum rampungnya konstruksi taman. Kelompok-kelompok suporter seperti Bonekmania, Jakmania, Bobotoh, Pasopati, Aremania terlihat kompak mengenakan jersey timnas untuk memberikan dukungan langsung.

Pengorbanan suporter ini dibayar manis ketika pasukan Garuda mampu membungkam tim kuat Vietnam dengan skor 2-1 (1-1), Sabtu (3/12). Presiden Jokowi yang hadir langsung di stadion pun tampak kegirangan menyaksikan timnas unggul. Kemenangan tersebut menjadi modal penting untuk mengantarkan Indonesia menuju final setelah ditahan imbang 2-2 (1-0) di Mỹ Đình National Stadium, Hanoi Vietnam, Rabu (7/12). Dengan demikian, Stadion Pakansari kembali menjadi homebase garuda ketika harus kembali bersua Thalinad di leg pertama final Piala AFF, Rabu (14/12). Antusiasme publik terhadap perjuangan timnas semakin besar. Mereka rela antre berdesak-desakan – bahkan ada yang pingsan –  untuk mendapatkan tiket di kantor Garnisun Jakarta Pusat.

Suporter yang tak kebagian rela merogoh kocek hingga tiga kali lipat untuk mendapatkan tiket dari para calo. Seperti pertandingan semifinal, antusiasme suporter untuk hadir langsung di Stadion Pakansari cukup tinggi. Mereka ingin menjadi saksi sejarah perjuangan timnas. Terlebih, PSSI menyiapkan layar lebar dan bakso gratis bagi suporter yang tidak kebagian tiket.

Di tengah cuaca gerimis, suporter tuan rumah terlihat lesu setelah tandukan Teerasil Dangda merobek jala Kurnia Miega. Penonton pun nyaris tanpa ekspresi meskipun tidak kehilangan semangat. Suara gemuruh Stadion Pakansari tinggal separuh. Penulis yang memilih menggunakan tiket ekonomi sangat merasakan lesunya suasana pada babak pertama. Sayup-sayup suara suporter Thailand mulai menggema, meskipun langsung hilang oleh terikan pendukung tuan rumah. Penulis sengaja mengambil slot tribun ekonomi karena ingin berbaur dengan suporter umum dan ingin menggugah kembali naluri suporter yang sudah lama vakum. 

Situasi berubah ketika Rizky Pora dan Hansamu Yama membuat timnas membalikkan keadaan degan skor 2-1. Riuh gemuruh suporter tak bisa dibendung, terompet bersahutan, drum band tak henti digebuk.  Sorak-sorai beradu dengan tepuk tangan seisi stadion. Kembang api pun dinyalakan hingga asapnya memenuhi Stadion Pakansari yang menyebabkan pandangan mata terganggu oleh kepulan asap. Di tribun barat daya sekitar 200 suporter Thailand terliat lesu, bahkan diam membisu. Tim underdog ternyata mampu membuat kejutan dengan menumbangkan gajah putih yang selama turnamen tampil nyaris tanpa kesalahan. 

Kondisi ini sebenarnya memberikan pelajaran penting bagi kita semua. Bahwa, keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkarya dan berprestasi. Semangat dan upaya keras akan mampu mengubah keadaan. Setidaknya, hal tersebut ditunjukkan oleh pasukan garuda yang dipimpin Boaz Salossa. Kerja keras tanpa lelah yang ditanamkan pelatih Alferd Riedl mampu membuahkan hasil maksimal.  Meskipun kita dalam dalam kondisi terjepit, namun dengan semangat tinggi mampu menemukan jalan keluar. Dalam al-Qur’an Allah berfirman “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” [Ar-Ra’d/13:11].

Merujuk pada firman tersebut, bahwa hanyalah kita yang mampu mengubah nasib sendiri dengan kerja keras dan semangat yang tinggi. Maka, dalam kondisi kebangsaan yang tengah diuji ini , kita tidak boleh berdiam diri dan hanya berpangku tangan, seolah pasrah pada keadaan. Begitupun menghadapi kondisi ekonomi yang mulai seret, rakyat Indonesia dituntut lebih kreatif untuk menciptakan peluang dan tidak hanya berpangku tangan. Karena dalam Hadits Nabi Muhammad SAW disebutkan, “Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Dan mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu. Dan sebaik-sebaik sedekah adalah yang dikeluarkan dari orang yang tidak membutuhkannya. Barangsiapa menjaga kehormatan dirinya maka Allâh akan menjaganya dan barangsiapa yang merasa cukup maka Allâh akan memberikan kecukupan kepadanya.” (Imam al-Bukhâri (no. 1427) dan Muslim no.1053 (124).

Artinya kita lebih baik memberi daripada meminta. Nasib kita lebih ditentukan oleh diri kita sendiri bukan ditentukan orang lain. Di Stadion Pakansari kita semua ditunjukkan arti sebuah perjuangan berat untuk menggapai sukses. Selagi ada semangat dan kerja keras niscaya akan ada jalan keluar. Maka Spirit dari Stadion Pakansari, layak kita miliki.

*anggota Komisi II DPR/Fraksi PPP/pendukung timnas

PPP Optimistis Masuk 3 Besar di 2019

RMOL.Kamis, 5 Januari kemarin, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) menggelar tasyakuran dalam rangka merayakan Hari Lahirnya (Harlah) yang ke-44.

Mengusung tema ‘Mewujudkan Masyarakat Madani Dalam Bingkai NKRI’, Harlah partai berlambang ka’bah ini berlangsung spesial karena dirayakan hingga tingkat Pengurusan Anak Cabang (PAC) atau tingkat kecamatan di seluruh Indonesia.

“Kegiatan kemarin digelar secara nasional,” ucap Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Bidang Organisasi Keanggotaan dan Kaderisasi (OKK) DPP PPP, Ach. Baidowi dalam pesan teksnya yang diterima rmoljakarta, Sabtu (7/1).

Pria yang akrab disapa Awiek ini mengatakan, eksistensi PPP sebagai Partai Politik (Parpol) tetap terjaga meski dinamika politik di tanah air terus mengalami perubahan.

Bahkan di usianya yang sudah matang ini, PPP menargetkan bisa masuk tiga besar partai peraih suara terbanyak pada perhelatan Pemilihan Umum (Pemilu) serentak 2019.

Anggota Komisi II DPR RI ini menambahkan, upaya untuk mengejar target menuju tiga besar dalam Pemilu 2019 tersebut sudah mulai digalakkan. Pergerakan organisasi PPP pun sudah diarahkan untuk mewujudkan target tersebut.

“Upaya mengejar target tiga besar yang ingin kita raih itu sudah mulai bergerak, tidak hanya jargon,” ujar legislator asal Madura ini.

Diakui Awiek, untuk bisa masuk tiga besar memang bukan hal yang mudah bagi PPP, mengingat peta persaingan politik yang begitu ketat ditambah dengan kondisi internal partai yang seperti sekarang ini.

Namun lanjut Awiek, PPP memiliki latar belakang yang membuatnya tetap optimis bisa lolos ke tiga besar.

“Dibilang mimpi kalau belum mengalami. Beda halnya kalau sudah mengalami, tinggal mencari langkah-langkah untuk mendapatkannya kembali,” jelas pria yang juga menjadi Panitia Khusus (Pansus) Rancangan Undang-undang Pemilu tersebut.

Masih kata Awiek, untuk meraih target tersebut, PPP sudah mencanangkan trilogi kemenangan.

Trilogi pertama mempertahankan basis pemilih agar tetap loyal pada Pemilu serentak 2019.

Setidaknya suara pemilih loyal minimal sama dengan perolehan suara pada saat Pilkada 2014 lalu.

“Kami mempertahankan tradisi lama yang baik dan tradisi baru yang baik,” kata dia.

Sementara trilogi selanjutnya, PPP ingin kembali mengambil basis tradisi yang hilang.

“Misalnya pada masa lalu di Dapil Madura, PPP dapat 2 kursi. Sejak 2009 hanya 1 kursi. Nah bagaimana yang satu ini bisa kembali jadi dua,” terang pria yang berlatarbelakang pesantren tersebut.

Trilogi yang terakhir sambung Awiek, PPP ingin mengambil tradisi baru yang baik dengan menyasar pemilih pemula.

Dikatakan awiek, pada Pemilu 2014, setidaknya terdapat 40 jutaan pemilih pemula. Menurutnya, hal ini merupakan potensi yang harus didekati dan direkrut sehingga target tiga besar tersebut dapat menjadi realistis.

“Pemilih pemula ini sehari-hari dengan gadget, media sosial. Kita ambil saja fenomena om telolet om, anak kecil di kampung saya sudah bawa-bawa kertas minta telolet. Dahsyatnya medsos di situ. Ini yang harus kita ambil,” tukas Awiek.[has/dka]

http://www.rmoljakarta.com/read/2017/01/07/39831/PPP-Optimistis-Masuk-3-Besar-di-2019-