Medali Emas ke-23

ASIAN GAMES ke-18 Jakarta-Palembang, pesta olahraga multivent terbesar se-Asia resmi ditutup pada Minggu (2/11). Selanjutnya, tahun 2022 para kontingen akan bertemu di Hangzhou, Tiongkok. Setiap ada pertemuan selalu ada perpisahan, pagi berganti siang, siang berganti sore, sore berganti malam, malam berganti pagi, begitulah siklus kehidupan. Empat tahun lagi, sebagian atlet yang masih berusia muda dan produktif akan kembali bersua dengan kompetitornya di nomor pertandingan yang diikuti. Pun demikian tak sedikit pula yang mengucapkan salam perpisahan di Jakarta-Palembang dengan beragam alasan, mulai faktor usia hingga kemampuan yang sudah mentok.

Euforia warga Indonesia – khususnya Jakarta-Palembang – cukup besar untuk menyaksikan pertandingan yang dihelat selama dua minggu tersebut. Ini terlihat dari membludaknya venue olahraga bahkan  penonton pertandingan atleltik pun mencapai ribuan, terlihat dari hampir separuh GBK terisi suporter. Ini merupakan rekor baru, yang tak pernah terjadi sebelumnya. Saking membludaknya penonton, pertandingan soft ball yang tak terlalu populer pun penuh dengan suporter. Kondisi serupa juga terjadi di venue lainnya seperti Pulomas, Kepala Gading, Pondok Indah, Bulungan.

banyak penonton yang tidak kebagian tiket, hanya mendapatkan tiket festival yakni cukup membayar Rp10.000. dengan tiket festival mereka bebas masuk ke arena Gelora Bung Karno maupun Jakabaring Sport City. Mereka hanya bisa menonton pertandingan favorit melalui layar besar. Jumlah pengguna tiket festival ini ternyata hampir sama dengan penonton yang kebagian tiket pertandingan. Mereka satu suara meneriakkan yel yel Indonesia, Indonesia, tak memandang perbedaan agama, suku dan ras.

Selain nonton di layar lebar, wisata kuliner dan spot fotografi menjadi hiburan tersendiri bagi para pemegang tiket festival. Paling tidak, selama dua minggu warga Jakarta-Palembang menjadi warga Internasional. Mereka pun terbiasa mendengar bahasa asing dari beberapa negara, meskipun tidak terlalu mengerti artinya. Tak hanya di dua kota besar tersebut, kota-kota lain pun seperti Bekasi, Cikarang, Bogor, Subang, Bandung, Tangerang, Karawang, Purwakarta juga kebagian meriahnya Asian Games, karena beberapa cabang olahraga dipertandingkan di kota tersebut.

Dua olahraga favorit yang selalu digandrungi warga Indonesia adalah sepakbola dan bulutangkis. Sayang tim sepakbola U-23 terhenti di babak 16 besar setelah kalah adu pinalti melawan UEA di Stadion Wibawa Mukti Cikarang. Praktis tinggal pertandingan bulutangkis yang banyak menyedot perhatian publik Indonesia. Hal ini terlihat sejak atlet bulutangkis Indonesia mulai masuk babak perempat final yang di sektor tunggal putra, tunggal putri, ganda putra, ganda putri dan ganda campuran. Puncaknya, ketika tunggal putra Indonesia Jonathan Christie masuk final dan ganda putra mewujudkan All Indonesian Final. Tampilnya Jojo, sapaan Jonathan Christie di final tunggal putra di luar dugaan karena yang bersnagkutan berstatus nonunggulan dan tidak dibebani target medali, mengingat sektor tunggal putra dalam beberapa tahun terakhir menjadi titik lemah Indonesia. Namun, dengan posisi underdog Jojo mampu membalikkan prediksi.

Saat meladeni permainan Chou Tien Chen, dari China Taipe (Taiwan), Jojo mendapat perhatian dan dukungan warga Indonesia. Warga Indonesia yang mayoritas muslim tanpa disuruhpun ikut mendoakan Jojo yang beragama Kristen. Itulah olahraga, demi nasionalisme atasnama Indoneisa, perbedaan agama, suku dan ras dikesampingkan. Saat final tunggal putra digelar di istora Senayan, Selasa (28/8) pukul 12.00 WIB, kami tidak bisa menyaksikan langsung euforia masyarakat di Indonesia. Saat yang sama kami baru mendarat di Bandara Schiphol, Amsterdam, Belanda untuk transit menuju Bandara El-Doardo, Bogota, Kolombia. Saat itu menunjukkan pukul 06.00 waktu setempat, dan ada waktu 4 jam untuk transit.

Tanpa dikomando, kami rombongan Badan Legislasi (Baleg) DPR yang hendak studi banding dalam rangka penyusunan RUU Penyadapan ke Bogota, langsung membuka ponsel yang sudah terhubung dengan wifi bandara. Dalam sekejap kami pun mencari saluran tv online yang menjadi media partner Asian Games ke-18. Meski tak semeriah di Istora, kami yang sepuluh orang termasuk staf Baleg pun mengepalkan tangan dan setengah berteriak ketika pukulan dari Jojo menghasilan poin. Puncaknya ketika Jojo memenangkan pertarungan di set ketiga, kami pun setengah lompat kegirangan. Sontak ini menarik perhatian pengunjung Bandara Schiphol, mungkin mereka bingung dengan tingkah kami. Tapi biarlah itu menjadi urusan kami, bukankah mereka akan melakukan hal serupa jika pada posisi kami. Kami pun yang terdiri dari berbagai fraksi, berbagai suku, berbagai agama terlihat gembira melihat Jojo bisa mempersembahkan emas ke-23  Asian Games dari sektor tunggal putra. Tak terasa waktu boarding tinggal 30 menit lagi dan kami pun siap-siap menuju gate pemeriksaan paspor dan boarding pas. Selamat untuk Jojo, selamat untuk Indonesia yang memperolah 31 emas dalam event Asian Games ke-18.

Oleh : Achmad Baidowi

Wakil Sekretaris Fraksi PPP DPR RI

Bookmark the permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *