Nasionalisme di Rajamangala Stadium

Ach Baidowi

Sebulan lalu menjadi momen tak terlupakan bagi sejarah sepakbola tanah air. Ya, tanggal 17 Desember 2016, saat menyambangi National Stadium Rajamangala, Bangkok, Thalinad, timnas Indonesia percaya diri menghadapi laga II final AFF Suzuki Cup 2016. Dengan modal kemenangan 2-1 d leg pertama, timnas siap mengukir sejarah baru menjadi kampium di kawasan Asia Tenggara.

Euforia juga dirasakan para suporter merah putih. Tak kalah semangat, mereka pun ingin menjadi saksi sejarah di stadion dengan kapasitas 60.000 orang tersbut. Untuk memberikan dukungan maksimal, PSSI dan KBRI Bangkok pun meminta slot tempat duduk sebanyak 1.000 kursi kepada panitia. Animo dukungan terhadap Timnas sudah terasa ketika memsuki menjejakkan di dalam pesawat Garuda GA 866 rute Jakarta-Bangkok. Hamper 80% penumpang pesawat merupakan suporter Indonesia. Aksesoris timnas, seperti kaos, topi, syal sudah digunakan mereka sejak dari terminal keberangkatan Soekarno Hatta Airport.

Guratan semangat nasionalisme yang sempat lesu belakangan, kini mulai terlihat bergairah kembali. Kondisi ini mengingatkan penulis pada leg pertama final Piala AFF 2010 saat timnas melawat ke Stadion Bukit Jalil Kuala Lumpur, Malaysia. Meminjam istilah yang lazim di Bonekmania, Tret-tet-tet suporter tak bisa dibendung. Begitu mendarat di Bandara Suvarnabhumi, Bangkok sambutan hangat dari warga Thailand menyapa kami. Tak ketinggalan, para petugas pun menyapa kami dengan hangat seolah melupakan kalau dalam beberapa jam kedepan kami berada dalam posisi berseberangan. Ya dukungan terhadap timnas boleh berbeda, tapi persaudaran dalam ikatan kemanusiaan harus tetap terjaga.

Pihak KBRI sedari awal sudah menyadari akan menjadi tuan rumah bagi suporter Indonesia. Mereka sudah siap menyambut suporter Indonesia. Beberapa petugas KBRI sengaja ditempatkan di bandara untuk turut membantu kelancaran suporter masuk ke Bangkok, khususnya rombongan DPR dan kementerian. Tercatat beberapa kementerian mengrimkan suporter. Bahkan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Panglima TNI Jenderal Gatot S Nurmantio  datang langsung di Rajamangala.

Tak terasa setelah satu jam membelah kemacetan lalu lintas di Bangkok, yang ternyata lebih kompleks dari Jakarta, penulis tiba di KBRI sekira pukul 15.00 waktu setempat. Empat jam kemudian kami akan turut merasakan atmosfir pertandingan di Rajamangala Stadium yang selama ini dikenal angker bagi tim tamu.

Suasana di KBRI begitu ramai, para suporter sudah memenuhi sekitar 8 bus yang sudah disiapkan. Tak ketinggalan, KBRI juga menyiapkan makanan di Wisma Indonesia untuk menyambut saudara sendiri. Dubes Indoensia untuk Thailand Achmad Rusdi beserta istri terlihat sibuk  menyambut para tamu, khususnya para petinggi Negara ini. Rasa persaudaran, semangat nasionalisme begitu terlihat di Wisma Indonesia. Hanya dalam momen inilah, penulis bisa duduk satu meja dengan Menag, Dubes, Ketua PSSI dan Stafsus Menag sambil diiringi diskusi kecil. Tak berselang lama, Panglima TNI yang bersama rombongan keluarga timnas tiba di Wisma Indonesia.

Kami pun membaur menikmati sajian makanan khas Indonesia yang disiapkan KBRI. Momen foto-foto pun seolah menjadi menu wajib bagi semua yang hadir. Menag Lukman Hakim Saifuddin paling banyak menjadi sasaran foto bersama oleh staf KBRI maupun suoprter. Tepat pukul 17.00 kami mulai  bergerak menuju  Rajamangala yang diperkirakan memakan waktu satu jam. Kami sengaja berangkat lebih awal, mengingat jalur menuju stadion cukup padat dan macet. Aura kemacetan tak jauh berbeda dengan di Jakarta. Bahkan, kami yang satu mobil dengan Menag berkelakar seolah olah sedang terjebak kemacetan di Kampung Melayu, Jakarta Timur. Harus diakui infratsruktur transportasi di Bangkok lebih siap dibanding Jakarta, ada MRT dan jalan layang sudah banyak. Namun, hal itu tak mampu mengurai kemacetan khususnya di jam sibuk. Terlihat beberapa bus lalu lalang, sepintas kondisi bus mirip dengan bus 46 milik PPD.

Tak terasa mobil yang kami tumpangi memasuki kawasan Rajamangala Stadium. Sepintas stadion tersebut terlihat kecil,  mengingat desain tribun memang dibuat menjulang mirip Camp Nou, Barcelona  untuk menyiasati keterbatasan lahan. Sambutan hangat para suporter tuan rumah pun membuat suasana lebih meriah. Sepertinya memang hubungan suporter Indonesia dan Thailand seperti saudara. Seisi stadion membiru, hanya di pojok barat daya yang terlihat merah dipenuhi suporter Indonesia. Gemuruh drum band dan yel yel pendukung Thailand bergemuruh. “Thailand, Thailand, Thailand” begitu teriak suporter tuan rumah. Tak mau kalah,  suporter Indonesia yang sebagian terdiri dari Jakmania, Bobotoh, Bonek, Tretan un mengeluarkan kemampuan terbaiknya untuk mendukung tim kesayangan.
Teriakan “Indonesia, Indonesia, Indonesia” yang diselingi tabuhan dan tepuk tangan juga mampu memukau seisi stadion. Nyali kami tak ciut sedikitpun berada di kandang macan. Nasionalisme tinggi dan gegap gempita suporter pun tak jauh berbeda seperti ketika timnas bermain di kandang. Mungkin itulah salah satu kelebihan suporter Indonesia, mampu eksis dalam kondisi apapun. Meskipun minoritas di tengah kepungan suporter lawan, jiwa nasionalisme Indonesia tak pernah pudar.

Ketika lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan, semangat nasionalisme semakin tinggi. Bendera merah putih ukuran raksasa dikibarkan menandakan bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa besar yang selalu siap dalam kondisi apapun. Berkat sepakbola, rasa nasionalisme kita digugah. Semangat tanpa lelah ditunjukkan oleh pemain Indonesia dan suporter di sepanjang pertandingan.

Namun, dua gol dari Siroch Chatthong  di babak pertama dan babak kedua mengubur mimpi Indonesia untuk menjadi juara AFF 2016. Mitos bahwa pemenang leg pertama akan menjadi juara AFF runtuh di tahun 2016. Indonesia harus menyimpan kembali keinginan menjadi juara AFF untuk yang pertama kali. Selain ditunjukkan arti sebuah nasionalisme, gelaran AFF 2016 memberikan pelajaran bagi kita semua, bahwa prestasi itu tidak mungkin diraih dengan mudah apalagi dengan cara instan. Semua membutuhkan proses yang cukup panjang. Hanya tim terbaik dari aspek kualitas teknis, mental dan skill yang akan keluar sebagai pemenang. Kita yang kembali meraih posisi runner up tak perlu larut untuk menundukkan muka. Bermodal semangat nasionalisme saja tidak cukup, tapi harus mendapat dukungan semua pihak khususnya pemerintah. Itu semua akan berguna jika dibarengi semangat juang tinggi, kerja keras dan dukungan suporter. Bila semua telah dilakukan, kami yakin di tahun mendatang medali emas itu akan mampir ke markas PSSI di kawasan GBK Senayan. Semoga!

Penulis adalah Anggota Komisi II DPR Fraksi PPP/ suporter Timnas Indonesia