Kebebasan Berpendapat Harus Didasari Tanggung Jawab

Indonesia dikenal sebagai Bangsa yang penuh dengan kearifan, nilai-nilai kesopanan, penuh kasih sayang dan memiliki jalinan persaudaraan satu dengan lainnya yang sangat erat. Namun, kini nilai-nilai tersebut mulai memudar. Kebebasan berpendapat memang sebagai tanda lahirnya era reformasi, tapi seringkali kebebasan tersebut dimaknai bebas tanpa batas, sehingga menjadi pemicu kendurnya nilai-nilai sosial bahkan nilai-nilai agama. Sudah jadi barang tentu, hal tersebut sangat mengkhawatirkan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Achmad Baidowi, anggota Fraksi PPP MPR RI terus berusaha menghidupkan kembali nilai-nilai tersebut, salah satunya dengan terus mensosialisasikan 4 Pilar MPR RI, Pancasila sebagai Dasar dan Ideologi Negara, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai Konstitusi Negara & Ketetapan MPR, Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai Bentuk Negara, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai Semboyan Negara. Hal tersebut disampaikan dalam Sosialisasi Empat Pilar MPR RI bekerja sama dengan Klepean Center. Acara tersebut bertempat di Rumah Demokrasi Klepean Center Pamekasan, Minggu (19/02).

Hadir sebagai pembanding dalam diskusi tersebut, aktivis pemuda Ali Wafa. Dalam paparanya, Awiek mengaku prihatin atas kebebasan berpendapat yang diartikan bebas tanpa batas oleh masyarakat akhir-akhir ini.

“Akhir-akhir ini banyak yang tidak paham akan kebebasan berpendapat, masyarakat memahami kebebasan itu bebas tanpa batas. Padahal seharusnya kebebasan berpendapat tersebut atas dasar tanggung jawab maksudnya bahwa ide, pikiran atau pendapat kita tersebut mesti dilandasi akal sehat, niat baik dan norma-norma yang berlaku” kata Awiek, sapaan akrab Baidowi.

Untuk itulah, lanjut dia di depan masyarakat yang berasal dari berbagai desa di Pamekasan, mari kita tetap menjaga kerukunan antar sesama melalui etika berpendapat yang penuh tanggung jawab dan tidak menyimpang dari norma-norma sosial dan norma-norma agama.

Sementara itu, Ali Wafa menyatakan, peran Lembaga Pendidikan dan organisasi pemuda sangat dibutuhkan dalam mencetak kader pemimpin umat yang beretika, santun dan sopan dalam berpendapat. Melalui pendidikan dan pengkaderan, maka konsep menghargai satu sama lain bisa diimplementasikan. Karena itulah, pemahaman pendidik terhadap konsep kebebasan berpendapat yang ramah sangat diperlukan. (Bk/Nw)